Iklan

Iklan

,

Iklan

Fordes Matappa Bergerak, Warga Desa Balla Siram Jalan dan Bagikan Masker

4 Sep 2026, 21:47 WIB Last Updated 2026-09-04T13:47:00Z


SUARAKATUAL.ID, LUWU -- Jalan yang melintasi Desa Balla belum ramai betul pada Jumat pagi itu (4/9). Beberapa orang yang melangkah di tepinya terlihat membawa selang, alat semprot, dan masker. Mereka tidak hendak menghadiri suatu acara, karena tak ada panggung dan spanduk di sekitar situ, tidak juga pemberitahuan sebelumnya. Tanpa seremoni dan basa basi, mereka mulai menyiram jalan hingga ke tepinya, sekalian membagikan masker kepada siapa saja yang mereka jumpai. Inilah sebentuk kepedulian.


Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari tahun lalu. Belum ada gelagat hujan meski bulan sudah masuk September. Debu lebih banyak jadinya, eterbangan jika terkena sapuan angin dari kendaraan yang melintas, sebelum kemudian jatuh menutupi daun-daun di pepohonan dan teras rumah yang berdiri di pinggir jalan. Debu yang beterbangan itu bukan hanya mengganggu pemandangan melainkan juga bisa merusak alat pernapasan warga di sekitar situ.


Demi mencegah itu, Kader Jaga Mobilisasi (KJM) dan Kader Jaga Lingkungan (KJL) desa setempat memilih melakukan sesuatu yang sederhana, yaitu menyiram jalanan untuk membantu mengurangi debu dan membagikan masker kepada warga yang beraktifitas di sekitar situ.


Ketua Fordes Matappa Desa Balla, Hendra, termasuk salah seorang yang mendorong keterlibatan warga dalam kegiatan tersebut. Baginya, keberadaan kader bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga mencari cara melibatkan masyarakat untuk ikut mengambil peran dalam mengatasi persoalan yang mereka hadapi di lingkungan tempat tinggalnya.


“Kita melihat kondisi di lapangan, kalau ada debu, kita tidak hanya melihat dan berkeluh kesah. Kita harus melakukan sesuatu untuk membantu masyarakat, seperti penyiraman jalan dan pembagian masker,” kata Hendra, saat dijumpai di lokasi pembagian masker.


Masker-masker itu langsung diberikan langsung kepada masyarakat. Rumah-rumah yang berada di sekitar jalur mobilisasi didatangi. Bagi Hendra, pemberian masker bukan hanya soal membagikan perlindungan sederhana, tetapi juga bentuk perhatian kepada warga yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan debu jalanan.


“Yang paling penting itu masyarakat merasa diperhatikan. Kita datang langsung, kita bagikan masker, sekaligus kita lihat kondisi di sekitar. Jadi ada komunikasi dan saling pengertian bersama warga,” katanya.


Gerakan itu kemudian tidak berhenti di Desa Balla. Pembagian masker dilakukan secara serentak di 20 desa lingkar tambang. Dari satu desa ke desa lainnya, para kader mengambil peran yang sama, yaitu mendatangi masyarakat, membagikan masker, serta ikut menjaga kondisi lingkungan di wilayah masing-masing.


Di titik ini, KJM dan Kader Jaga Lingkungan memiliki peran yang saling melengkapi. KJM hadir menjaga aktivitas di jalur mobilisasi tetap tertib dan aman, sementara Kader Jaga Lingkungan mengambil bagian dalam menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.


Bagi Hendra, keterlibatan warga justru menjadi kekuatan utama. Sebab, warga adalah orang yang setiap hari berada di sana, melihat perubahan, merasakan kondisi jalan, sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan lingkungannya.


“Kita yang tinggal di sini tentu tahu kondisi desa kita. Jadi kalau ada yang bisa dilakukan bersama untuk membantu warga, kita lakukan. Tidak harus menunggu sesuatu yang besar. Yang penting ada kepedulian dan ada tindakan,” ujarnya.


Di bawah panas matahari, kegiatan itu mungkin terlihat sederhana. Air disiramkan ke jalan. Debu perlahan turun. Masker berpindah dari tangan kader kepada warga. Namun, dari tindakan sederhana tersebut, muncul sesuatu yang lebih besar: rasa memiliki terhadap desa.


Dukungan PT Masmindo Dwi Area terhadap kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama yang kemudian dijalankan oleh masyarakat melalui kader di masing-masing wilayah. Tetapi di lapangan, wajah kegiatan itu tetaplah warga sendiri mereka yang menyiram jalan, mengetuk pintu rumah, dan berbicara langsung dengan tetangganya.


Hendra percaya, kepedulian seperti itu akan lebih berarti ketika masyarakat sendiri ikut terlibat. Sebab menjaga lingkungan bukan hanya tentang siapa yang memiliki kewajiban, tetapi juga tentang siapa yang bersedia mengambil bagian.


“Kalau masyarakat ikut bergerak, tentu hasilnya akan lebih baik. Kita tinggal di desa ini, kita juga yang merasakan kondisinya. Jadi mari sama-sama menjaga mobilisasi dan lingkungan supaya tetap aman dan nyaman,” kata Hendra.


Ketika kegiatan serupa dilakukan serentak di 20 desa lingkar tambang, kepedulian tersebut tidak lagi berhenti sebagai gerakan di satu wilayah. Ia menjadi gambaran bagaimana masyarakat dapat mengambil peran dalam menjaga desa, baik melalui Kader Jaga Mobilisasi yang ikut memperhatikan keamanan dan ketertiban jalur mobilisasi maupun Kader Jaga Lingkungan yang bergerak menjaga kenyamanan lingkungan.


Pada akhirnya, menjaga desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia hadir melalui air yang disiramkan ke jalan berdebu, masker yang diberikan kepada tetangga, dan kesediaan warga untuk turun tangan ketika melihat sesuatu yang perlu dibenahi. Dari langkah-langkah sederhana itulah tumbuh rasa memiliki bahwa kenyamanan desa bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan sesuatu yang bisa dijaga bersama.*

Iklan